Seringkali waktu aku dengar orang bilang, "Orang yang paling aku sayang adalah mama."
Yang aku jawab dalam hati adalah, "Aku tak ingat bagaimana rasanya menyayangi mama."
Kalau orang bilang, "Mama mengerti aku, lebih dari papa."
Aku bilang mama gak pernah dengar keluhanku lagi, kupikir dia cuma lelah mendengar apapun.
Atau, "Aku mau beli kado buat ulangtahun mama."
Aku berpikir, kalau aja aku bisa rayain ulangtahun bareng mama, beda hari ulangtahun kami hanya lima hari. Mungkin kami bisa merayakan ulangtahunku, ulangtahunnya, dan hari ibu sekaligus bersamaan.
Kalau tanggal 22 Desember tiba, hari ibu, aku gak pernah beli kado waktu orang-orang lain pada memikirkan apa yang bisa bikin mamanya senang. Aku gak pernah mikir apa-apa tentang mama. Gak pernah lagi.
Mungkin pernah, tapi itu sudah lama, mungkin aku lupa, atau aku terlalu kecil untuk mengingat hari ulangtahun mama. Aku, gak ingat apa-apa tentang mama, selain kejadian hari itu.
Aku tak tahu, kejadian itu apakah hanya khayalanku saja, ataupun mimpi. Aku tak yakin, mungkin aku salah. Tapi fakta bahwa mama gak akan pernah ada lagi buatku, itu benar, bukan mimpi. Kejadian itu telah merajai hatiku selama 18 tahun belakangan ini. Kepingan hatiku, masih menyisakan perih, seperti luka yang semakin basah, terbuka semakin lebar, semakin terinfeksi.
18 tahun.
Adegan itu seperti film, berputar-putar di dalam pikiranku. 18 tahun.
Adegan itu seperti mimpi, menghampiri malam-malamku, bahkan ketika aku tak terjaga. 18 tahun.
Adegan itu seperti teror, menghujani hatiku dengan ribuan paku berkarat setiap harinya. 18 tahun.
Adegan itu nyata.
Bukan seperti, bukan andaikan, bukan kalau, tapi ada, hadir di memori otak kecilku. Adegan nyata lumpuhnya sebuah raga, dan terbuangnya sebuah nyawa, terekam jelas di otakku.
Sakit. Aku tau itu.
Apa yang kulakukan?
Aku menggali tanah hatiku, menguburnya dalam-dalam. Begitu dalam. Aku nyaris melupakannya. Nyaris. Setiap kali aku mengiranya telah mati terkubur, selalu ada orang yang menggalinya dalam hitungan detik, dan adegan itu kembali ke permukaan.
Sakit. Setiap sudut hatiku tau itu.
Apa lagi yang kulakukan?
Menahan kelopak mataku kuat-kuat agar tak menangis. Memukul kepalaku kencang-kencang agar tak ingat. Apa hasilnya? Mataku membengkak. Mengira menangis dapat membuang semua infeksi hati. Mengira memukul kepala dapat menghapus memori nyata itu.
Tapi apa?
Sakit. Setiap celah hatiku semakin tau itu.
Apa lagi yang kulakukan?
Aku mencari teman.
Mungkin teman dapat melupakan ini.
Aku mencari kesibukan.
Mungkin kesibukan dapat menghindari ini.
Aku mencari kata-kata bijak.
Mungkin kata-kata bijak dapat menyembuhkan ini.
Tapi apa?
Sakit. Gak berubah. Hatiku tau itu.
Lalu apa?
Jalan terakhir.
Jalan apa?
Orang bilang kehidupan.
Apa itu?
Ada yang bilang kebenaran.
Apa itu kebenaran?
"Lupakah kamu?" katanya.
"Apa?" jawabku.
"Kalau Aku ada." sambungnya.
Aku menolaknya. Sekali. Tidak. Dua kali.
Tidak. Lebih. Berkali-kali. Tak terhitung.
"Oh, Engkau, Tuhan?" jawabku. "Aku tau Engkau Tuhan. Aku sering dengar Engkau penyembuh. Aku hafal Engkau siapa."
"Menurut kamu, apa manusia bisa menipu Aku?" tanyaNya.
"Bisa." jawabku yakin. "Tentunya kalau manusia itu bodoh."
"Kenapa kamu bilang begitu?"
"Well, Engkau kan Tuhan. Engkau tau semuanya. Aku hafal ayatnya, di mana Kau katakan Engkau tau bahkan sebelum apapun muncul di pikiranku. Kalau orang tau bahwa Engkau MAHA TAU, dan masih menipuMu, bukankah ia bodoh?" kataku seraya mengingat-ingat letak Mazmur 139 di bukuNya.
"Kamu sedang sakit dan kamu tau bahwa Aku ada. Hafal bahwa Aku bisa. Kamu bahkan bilang menyerahkan hatimu kepadaKu. Kamu bilang percaya Aku menyembuhkan luka. Tapi kamu dengan kebodohanmu berusaha mempertahankan lukamu yang basah. Membiarkan kotoran menyelubungi infeksimu. Semakin kotor, semakin sakit, dan kamu bilang kamu percaya padaKu. Apa yang kamu lakukan, Cia-Cia?"
"Kamu menipuKu."
Benar. Aku membohongi Tuhan. Ya, Tuhan. Tuhan yang aku bohongi. Sang Maha Tau. Sang Pencipta hati. Sang Penyembuh.
"Apa yang kamu lakukan? MengutukiKu dan bersikap seakan Aku tak ada."
Benar. Aku tidak berbeda dengan ateis. Lebih parah. Lebih bodoh.
Apa yang aku lakukan?
Mengubur, menghindar, mencari-cari obat, membiarkan lukaku terbuka.
Sakit. Hatiku tau itu.
Tapi pilihanku lah yang menentukan, kapan aku bisa sembuh. Karena tangan Penyembuh itu ada. Dia ada. Tapi aku, apa yang aku lakukan?
Menepis tanganNya, mencari tangan orang lain, merasa benar, merasa bisa sendiri.
Sakit. Hatiku semakin parah.
Ok. Kalau semua pilihanku salah, aku menyerah.
Biasanya aku mengangkat tangan ke atas, tapi tak menyerahkan hatiku.
Biasanya aku mengangkat tangan ke atas, tapi tak merelakan sakit dan infeksiku.
Biasanya aku menghadap ke depan, tapi aku terlalu sering menengok ke belakang.
Biasanya aku berkata "Ya, aku percaya.", tapi dalam hatiku, "Apakah benar?"
Sekali lagi aku melihat tangan Penyembuh itu. Apa aku akan menyerah?
"Apa kau mau sembuh?" kataNya. "Ulurkan tanganmu."
Kali itu kelopak mataku tak dapat menahan air mata.
Kali itu tanganku tak lagi memukul-mukul kepala.
Kali itu tanganku terangkat. Kubiarkan terangkat. Ke arah tanganNya.
Kali itu hatiku benar-benar di sana. Di tanganNya.
Kali itu lukaku benar-benar di sana. DiangkatNya.
Kali itu, untuk pertama kalinya, aku sembuh.
18 tahun.
Terputus.
Kali itu.
Yang aku jawab dalam hati adalah, "Aku tak ingat bagaimana rasanya menyayangi mama."
Kalau orang bilang, "Mama mengerti aku, lebih dari papa."
Aku bilang mama gak pernah dengar keluhanku lagi, kupikir dia cuma lelah mendengar apapun.
Atau, "Aku mau beli kado buat ulangtahun mama."
Aku berpikir, kalau aja aku bisa rayain ulangtahun bareng mama, beda hari ulangtahun kami hanya lima hari. Mungkin kami bisa merayakan ulangtahunku, ulangtahunnya, dan hari ibu sekaligus bersamaan.
Kalau tanggal 22 Desember tiba, hari ibu, aku gak pernah beli kado waktu orang-orang lain pada memikirkan apa yang bisa bikin mamanya senang. Aku gak pernah mikir apa-apa tentang mama. Gak pernah lagi.
Mungkin pernah, tapi itu sudah lama, mungkin aku lupa, atau aku terlalu kecil untuk mengingat hari ulangtahun mama. Aku, gak ingat apa-apa tentang mama, selain kejadian hari itu.
Aku tak tahu, kejadian itu apakah hanya khayalanku saja, ataupun mimpi. Aku tak yakin, mungkin aku salah. Tapi fakta bahwa mama gak akan pernah ada lagi buatku, itu benar, bukan mimpi. Kejadian itu telah merajai hatiku selama 18 tahun belakangan ini. Kepingan hatiku, masih menyisakan perih, seperti luka yang semakin basah, terbuka semakin lebar, semakin terinfeksi.
18 tahun.
Adegan itu seperti film, berputar-putar di dalam pikiranku. 18 tahun.
Adegan itu seperti mimpi, menghampiri malam-malamku, bahkan ketika aku tak terjaga. 18 tahun.
Adegan itu seperti teror, menghujani hatiku dengan ribuan paku berkarat setiap harinya. 18 tahun.
Adegan itu nyata.
Bukan seperti, bukan andaikan, bukan kalau, tapi ada, hadir di memori otak kecilku. Adegan nyata lumpuhnya sebuah raga, dan terbuangnya sebuah nyawa, terekam jelas di otakku.
Sakit. Aku tau itu.
Apa yang kulakukan?
Aku menggali tanah hatiku, menguburnya dalam-dalam. Begitu dalam. Aku nyaris melupakannya. Nyaris. Setiap kali aku mengiranya telah mati terkubur, selalu ada orang yang menggalinya dalam hitungan detik, dan adegan itu kembali ke permukaan.
Sakit. Setiap sudut hatiku tau itu.
Apa lagi yang kulakukan?
Menahan kelopak mataku kuat-kuat agar tak menangis. Memukul kepalaku kencang-kencang agar tak ingat. Apa hasilnya? Mataku membengkak. Mengira menangis dapat membuang semua infeksi hati. Mengira memukul kepala dapat menghapus memori nyata itu.
Tapi apa?
Sakit. Setiap celah hatiku semakin tau itu.
Apa lagi yang kulakukan?
Aku mencari teman.
Mungkin teman dapat melupakan ini.
Aku mencari kesibukan.
Mungkin kesibukan dapat menghindari ini.
Aku mencari kata-kata bijak.
Mungkin kata-kata bijak dapat menyembuhkan ini.
Tapi apa?
Sakit. Gak berubah. Hatiku tau itu.
Lalu apa?
Jalan terakhir.
Jalan apa?
Orang bilang kehidupan.
Apa itu?
Ada yang bilang kebenaran.
Apa itu kebenaran?
"Lupakah kamu?" katanya.
"Apa?" jawabku.
"Kalau Aku ada." sambungnya.
Aku menolaknya. Sekali. Tidak. Dua kali.
Tidak. Lebih. Berkali-kali. Tak terhitung.
"Oh, Engkau, Tuhan?" jawabku. "Aku tau Engkau Tuhan. Aku sering dengar Engkau penyembuh. Aku hafal Engkau siapa."
"Menurut kamu, apa manusia bisa menipu Aku?" tanyaNya.
"Bisa." jawabku yakin. "Tentunya kalau manusia itu bodoh."
"Kenapa kamu bilang begitu?"
"Well, Engkau kan Tuhan. Engkau tau semuanya. Aku hafal ayatnya, di mana Kau katakan Engkau tau bahkan sebelum apapun muncul di pikiranku. Kalau orang tau bahwa Engkau MAHA TAU, dan masih menipuMu, bukankah ia bodoh?" kataku seraya mengingat-ingat letak Mazmur 139 di bukuNya.
"Kamu sedang sakit dan kamu tau bahwa Aku ada. Hafal bahwa Aku bisa. Kamu bahkan bilang menyerahkan hatimu kepadaKu. Kamu bilang percaya Aku menyembuhkan luka. Tapi kamu dengan kebodohanmu berusaha mempertahankan lukamu yang basah. Membiarkan kotoran menyelubungi infeksimu. Semakin kotor, semakin sakit, dan kamu bilang kamu percaya padaKu. Apa yang kamu lakukan, Cia-Cia?"
"Kamu menipuKu."
Benar. Aku membohongi Tuhan. Ya, Tuhan. Tuhan yang aku bohongi. Sang Maha Tau. Sang Pencipta hati. Sang Penyembuh.
"Apa yang kamu lakukan? MengutukiKu dan bersikap seakan Aku tak ada."
Benar. Aku tidak berbeda dengan ateis. Lebih parah. Lebih bodoh.
Apa yang aku lakukan?
Mengubur, menghindar, mencari-cari obat, membiarkan lukaku terbuka.
Sakit. Hatiku tau itu.
Tapi pilihanku lah yang menentukan, kapan aku bisa sembuh. Karena tangan Penyembuh itu ada. Dia ada. Tapi aku, apa yang aku lakukan?
Menepis tanganNya, mencari tangan orang lain, merasa benar, merasa bisa sendiri.
Sakit. Hatiku semakin parah.
Ok. Kalau semua pilihanku salah, aku menyerah.
Biasanya aku mengangkat tangan ke atas, tapi tak menyerahkan hatiku.
Biasanya aku mengangkat tangan ke atas, tapi tak merelakan sakit dan infeksiku.
Biasanya aku menghadap ke depan, tapi aku terlalu sering menengok ke belakang.
Biasanya aku berkata "Ya, aku percaya.", tapi dalam hatiku, "Apakah benar?"
Sekali lagi aku melihat tangan Penyembuh itu. Apa aku akan menyerah?
"Apa kau mau sembuh?" kataNya. "Ulurkan tanganmu."
Kali itu kelopak mataku tak dapat menahan air mata.
Kali itu tanganku tak lagi memukul-mukul kepala.
Kali itu tanganku terangkat. Kubiarkan terangkat. Ke arah tanganNya.
Kali itu hatiku benar-benar di sana. Di tanganNya.
Kali itu lukaku benar-benar di sana. DiangkatNya.
Kali itu, untuk pertama kalinya, aku sembuh.
18 tahun.
Terputus.
Kali itu.
Yohanes 5:6
Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: "Maukah engkau sembuh?"
Jawab orang sakit itu kepada-Nya: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku."
Bukankah alasan-alasan kita sendiri yang membuat kita tetap terluka padahal Penyembuh itu ada?
Now a new heart's been handed to me. Look! :)




